Aku yakin, semua orang pasti mengidam-idamkan kasih sayang. 2 kata yang sangat berarti bagi setiap kaum. Dan utamanya bagi seorang wanita, ia mengidamkan pria yang mampu melindunginya dan menjadi panutan hidup. Beberapa wanita bahkan memberikan persyara
tan khusus untuk type pria idamannya. Yang semuanya menginginkan pria untuk menyempurnakan hidupnya.
Dan menurut pandanganku, seorang pria yang aku idamkan adalah seseorang yang mampu menyempurnakan hidupku. Mampu untuk mengingatkanku d
an tegas dalam mengambil keputusan yang terbaik untuk bersama. Memberikan kasih sayang walau tidakkan mutlak.
Hal ini pernah aku rasakan terhadap seseorang
yang bagiku sangat sempurna. Apa yang aku inginkan, telah tecermin terhadap perilakunya yang sangat membuatku kagum. Tabiatnya dan keputusan yang ia ambil selalu membuatku tersenyum dan jika perlu aku akan memberikan standing applause untuknya. Dan aku kembali untuk mengisi blog ini dengan tujuan untuk memberikannya apresiasi setinggi-tingginya karena ia telah menemaniku selama 6 tahun ini, dan kami takkan pernah lagi merasakan masa lalu itu kembali.
Dia tak menginginkan seseorang yang sempurna, tapi yang ia impikan adalah berusaha untuk menyempurnakan. Entah, mungkin aku sangat munafik terhadap dia. Telah melebih-lebihkan apa yang ia perbuat, dan setelah aku terus berfikir, memang ini adalah kesalahanku.Aku sangat menyesali apa-apa yang membuat hubungan kami kini tak sedekat dulu. Tapi yang sangat aku kagumi adalah
“DIA SANGAT MENGHARGAIKU”
Tak kupungkiri, aku sering sekali mendengar hal-hal yang dilakukan oleh pasangan remaja yang melampau batas kewajaran suatu hubungan. Bahkan mereka ber
dalih bahwa itu merupakan hal untuk mempererat hubungan mereka. Dari yang bisa dimaklumi hingga sesuatu yang membuat banyak orang berpendapat bahwa dunia ini semakin edan. Tapi itu adalah hal yang sangat dihindarinya untuk mempererat hubungan yang kami jalin selama 6 tahun belakangan ini.
Tak terbersit sedikitpun niatan darinya untuk merugikan batin dan jiwaku. Yang ia lakukan hanya sesuatu yang dapat membuat dia yakin atas cintanya kepadaku
. Ia tahu bahwa pantang bagiku untuk merugikan ragaku. Aku sangat menyucikan ragaku. Dan aku sangat riskan untuk melakukan beberapa hal yang dianggap wajar untu pasangan seumuranku. Misalnya saja bercumbu bagi pasangan remaja.
Ia tahu aku tak menyukai hal-hal seperti itu. Ia tahu bahwa aku sangat menjauhi hal-hal yang merugikan ragaku walau itu hal yang menurut beberapa orang tak pentin
g. Ia paham bahwa aku sangat menyukai alunan musik klasik dan jazz. Hingga membuat ia bekerja keras untuk berlatih piano aliran jazz hanya untuk memainkan lagu yang aku sukai ketika valentine 2006 silam. Aku sangat mengenal ia dan keluarganya. Keluarga yang sangat harmonis dan penuh dengan tawa. Dan juga merupaka keluarga yang aku idam-idamkan kelak. Kenangan-kenangan dari tahun pertama hingga tahun ke-enamku bersamanya seakan tak ingin ku ulur hingga terlepas dari genggamku.
Ketika itu kami menjalin hubungan yang sedikit complicated. Aku tahu, yang aku lakukan kala itu sangat bertolak belakang dengan keseharianku.
Awal hubungan kami, aku sangat mengaguminya dan memberanikan diri untuk pergi keluar rumah naik taksi pertama kali tanpa orang tua hanya untuk melihat dia memainkan konser yang bagiku sangat spesial(walau baginya konser itu sangat menjemukan). Semua ora
ng bertepuk tangan atas alunan musik klasiknya, hal itu yang membuatku tak percaya bahwa aku memiliki orang hebat bagi beberapa khalayak.
Tahun pertama merupakan tahun penentuan aku harus melanjutkan studi junior highku. Ketika itu aku mengidam-idamkan SMP Negeri 1 Surabaya untuk menjadi tempatku menimba ilmu. Ia memberikan semangat dan sukungan. Ia sangat pantang berhenti untuk mengingatkanku b
erdoa dan puasa. Ia yang membantuku dan memberikanku senyum yang tulus ketika aku hendak menempuh ujian. Bagi anak SD yang belum tahu menau tentang arti “pacaran”, ini lebih dari cukup.
Tahun kedua, merupakan tahun yang sangat perih baginya. Aku menyakiti hatinya. Mungkin ketika itu aku hanya mampu untuk meminta maaf dan berkata bah
wa aku bosan dengan dia. Bosan dengan perhatiannya yang semakin hari semakin berlebihan. Yang sebenarnya aku merasakan bahwa aku takkan bisa membalas kasih sayang yang ia berikan. Aku mencari seseorang lain untuk sejenak mengalihkan diriku dari sosoknya yang sangat se
mpurna. Aku berharap bahwa ia mencari orang lain untuk mengisi hari-harinya dan memberikan cinta yang sebanding dengan apa yang ia berikan. Tapi tak kuduga, ia tetap sabar untuk menyayangiku. Aku galau.
Tahun ketiga, aku semakin menjadi-jadi. Aku mencari seseorang lain untuk menggantikan kasih sayangnya yang terlampau banyak dan membuatku semakin muak akan diriku yang tidak bisa membalas kesabarannya. Aku tidak bisa memberikan apa yang ia layak daptkan. Satu ken
yataan yang membuatku tertekan kala itu adalah ia akan melanjutkan studinya keluar negeri. Dan itu artinya adalah tidak ada lagi sosok yang membua
tku tersenyum ketika aku tertekan. Beberapa yang aku sayangkan ketika itu adalah :
- Aku belum menjadi orang yang berfikiran dewasa sesuai janjiku kepadanya
- Aku belum bisa menghargai apa yang ia berikan
- Aku belum bisa membuat ia ketawa dan membuat ia bangga kepadaku
- Aku belum bisa berterus terang bahwa aku memang membutuhkannya
- Aku belum bisa mengakui bahwa sosoknya merupakan kesempuranaan bagiku
- Dan aku belum bisa menciumnya
Mungkin kalian(yang sedang membaca blogku ini) sangat riskan mendengar kata ciuman. Tapi itu yang sesungguhnya terjadi hampir disetiap pasangan muda-mudi zaman kini. Bahkan beberapa ada yang berhenti untuk menjalin rela
tionship karena tak mencium pasangannya. Tapi entah mengapa, aku sangat menghargai setiap ragaku, hingga ia tak pernah mengungkit-ungkit masalah ini.
Aku shock mendengar keberangkatannya, hingga aku gengsi untuk mengungkapkan rasa kehilanganku. Walaupun ia acap kali mengatak bahwa ia sangat merindukanku
kelak.
Tahun keempat,aku sangat kehilangan dia. Hingga aku berusaha untuk melupakan (atau lebih tepatnya membiasakan diri) untuk tidak bergantung a
pada sosoknya. Aku mencoba tidak m
endengarkan lagu jazz dan klasik(walau aku san
gat merindukannya). Entah bagaimana caraku untuk menentramkan hari-hariku tanpanya. Hingga aku memutuskan untuk mengikuti kompetisi jurnalis. Hingga aku meraih juara IV dan menjadi medali pertama pada bidang yang baru aku tekuni. Dan aku menemukan seseorang yang sangat maya yang mirip akan sosok ia. Namun, semuanya berakhir sia-sia walau ia berjanji akan menemuiku setelah UNAS. Dia tetap pria tersempurna bagiku.
Tahun Kelima aku semakin yakin bahwa ia soso
k yang aku inginkan. Aku merasa bahwa ia semakin dekat walau jarak kita sangat jauh. Dan kenyataan yang lebih parah bahwa kedua orang tuanya pindah ke Jogjakarta. Kota yang tak pernah kukunjungi, dan itu berarti juga bahwa aku dan dia semakin sulit untuk bertemu. Ia sudah tidak punya sanak saudara di Surabaya. Bukan berlebihan, tetapi aku merasa sangat sendiri. Aku tak tahu, aku masih tak
percaya dengan beberapa orang.
(Dan dengan post kali ini, aku juga meminta maa
f kepada seniorku karena telah melancangi kehidupannya. Aku sangat menyayangkan hal itu, mengingat kita dekat dan aku nyaman jika ak
u bercerita dengan dia, walau aku tak berharap lebih karena aku tahu posisiku tak sebanding dengan dia. Aku sangat menyesal mengatakan bahwa kelak ia akan ringan tangan, aku juga menyesal bahwa aku melarang ia bergabung dengan klub fitness, dan melarang ia bersekolah diluar kota. Karena aku tak mau kehilangan sosok seniorku, yang sangat mendekati seseorang yang aku bicarakan di post in
i. Ia seakan menjadi malaikat penolongku. Aku tak mau kehilangan sosok seperti itu lagi. Aku ingin menetap disini, dan selalu berbincang mengenai masalahku, dan aku berjanji akan senantiasa untuk mendengarkan keluh kesalnya. Aku tak mau kehilangan sosok seperti ini lagi. DAN KENYATAANNYA IA PERGI KARENA KEBODOHANKU.)
Tahun Keenam Tahun keenam adalah kini, sekarang ini adalah tahun keenamku bersama ia. Dan aku kini semakin kehilangan dia. Aku menyayanginya, dan men
coba untuk mempertahankannya. Aku mencoba untuk membalas kasih sayang yang selama ini belum aku berikan. Aku mencoba memperbaiki sikapku yang begitu kekanak-kanakan. Aku memperbaiki semuanya di tahun ini. Tapi kenyataan berubah seketika, ia berkata bahwa ia ingin menyudahi hubungan kita yang semakin lama semakin ricuh. Ditahun keenam(jika kita belum menyudahi hali ini), yang tepat hari ini juga, aku mengatakan bahwa aku sangat kehilanganmu, aku sangat kecewa terhadap sosokku, aku sanga
t kecewa dengan apa yang selama ini aku
perbuat. Aku minta maaf atas semua ini. Aku sangat menyesal.
Melalui post ini juga, aku meyakinkan diri untuk melanjutkan studiku keluar kota. Aku ingin berkonsentrasi dengan kuliahku kelak. Batinku akan terus tersiks
a jika aku mengenang beberapa tempat yang menjadi kenangan bersamamu. Aku tidak ingin melewati tempat-tempat dimana kamu membuatku tersenyum(Dan bagi pembaca blog ini, jika kalian merasa bahwa hal yang aku katakan di blog agak berlebihan, aku minta maaf, karena ini memang sesuai yang aku rasakan), dimana seniorku memberikan nasehat-nasehat dan petuah yang sangat berharga bagiku. Serta aku tak ingin menambah dosaku dan membebani orang tuaku dengan tingkah lakuku yang menjengkelkan jika aku tetap di Surabaya. Aku memutuskan untuk meninggalkan kota ini sejenak, Hingga saatnya nanti aku kembali bersama kalian.
Hal yang aku ketahui, bahwa orang yang aku ceritakan di blog ini, akan melanjutka S2 nya di University of Barkeley – USA. Hal itu semakin membuatku tersiksa. Maafkan aku yang egois ini.

There are many memories lie