December 13, 2008 by neckstorarina
Di kala surya perlahan menghilang dari mimbarnya, gadis itu tetap duduk walau sedang kesakitan. Tak ada yang berani mengganggunya. Ia tetap mencari kesibukan walau perih menahan air matanya. Ia sulit jatuh cinta , namun kini beda. Ia mengikuti kegiatan yang sama sekali tak ber-basic pada pendiriannya demi orang yang ia cintai. Namun ia tetap kuat, tegar.
Bertahun ia merasa kesepian. Bertahun juga ia melamun tuk berfikir, untuk siapakah hati itu ia tambatkan. Selalu diam walau beribu orang yang ia sayangi telah memiliki sejuta kasih sayang yang tak ia miliki. Ia tak iri, tapi ia bingung, kemanakah dia berjalan ketika desiran ombak menyentuh hatinya. Apa ia akan selalu konstan mengikuti kemana arah itu berjalan tanpa seorang kekasih untuk berbagi dan memberi kasih yang ia dambakan.
Sulit untuk mengatakan bahwa ia sedang jatuh cinta. Walau seluruh sahabatnya mengarahkan dan memutar haluannya. Ia selalu menganggukkan kepala namun ia tak janji akan membuat semuanya nyata. Bahkan minggu lalu senior menyatakan cinta kepadanya. Ia menolak dengan alasan tetap teguh pada pendiriannya.
Kuatkah ia jika tetap duduk disana. Mencari kesibukan yang seolah menutupi pedihnya hati itu. Prahara yang tak pernah ia inginkan. Namun ia tetap duduk disana karena permintaan orang yang ia cintai.
Bagaimana wujud cinta itu sehingga membuat ia bertahan disana. Bahkan orang lain pun tak akan seperti bisa melakukan itu. Bertahan walau orang yang dinanti-nanti selama beberapa tahun itu bersama wanita lain yang sangat ia murkai. Gadis itu melihat sepasang makhluk yang sedang bercinta, menggenggam tangan satu sama lain. Bermesraan di tengah hausnya rasa kasih sayang gadis itu. Namun gadis itu tetap bertahan disana. Ia menutupi rasa tangisnya dengan kesibukan menciptakan drama lelucon yang tak lagi lucu.
Itukah cinta, membuat apa yang tak mungkin terjadi menjadi nyata. Membuat hal yang konyol menjadi ada. Setia menunggu walau orang yang kita cintai menemukan pilihan hatinya. Setia dengan yang ia rasakan dan tetap kokoh dengan nalurinya.
Gadis itu tetap setia menunggu..
Hingga orang yang ia cintai itu berpaling dan kan membuka pintu hatinya yang tak pernah terekspedisi.
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
December 13, 2008 by neckstorarina
Entah apa yang ku fikirkan kali ini. Sungguh! Bahkan seketika aku menyukai hujan. Aku menyukai hal-hal yang sebelumnya aku sangat benci. Hidup ini terlalu khayal. Tak bisa kumengerti. Aku semakin benci kepada diriku sendiri ketika aku melihat temanku itu. Aku bahkan ingin memaki diriku. Aku ingin menghujat, dan berkata betapa bego’ nya aku. Aku pun tak tahu, apa yang membuatku seperti ini. Aku lebih ganas dibanding raja hutan yang sebegitu buasnya.
Ketika ku mengingat hal itu. Ingin rasanya amarah keluar. Dan setiap orang akan menanyakan, kenapa kamu seperti itu. Entah apa yang harus ku jawab. Aku seperti hidup di dreamland. Negeri yang tak pernah berwujud. Oh Tuhan, apakah ini hukuman bagiku? Aku rasanya ingin sekali menyadarkanku, kamu bukan hidup di negeri mimpi. Kamu hidup di negeri yang sangat nyata. Bahkan terlihat walau kau minus 10 dan tak memakai kacamata. Hei..hei.. bangun
Aku tak kunjung bangun dari mimpi ini. Mimpi ini terlalu jauh untuk ku cerna. Terlalu sulit untuk ku tebak dan ku nalar maksudnya. Bahwa aku meninggalkan seseorang yang telah memberiku kenangan dan arti dari pertemanan. Di hujan deras ini aku menangisi setiap masa lalu yang telah kita bentuk sedemikian sempurnanya. Maafkan temanmu ini, maafkan. Karena aku berfikir, kau terlalu fiktif untuk kau nyatakan.
–nnay–
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
December 13, 2008 by neckstorarina
Dikeheningan pagi . embun terasa mengoyak jiwa, menggugah hati tuk terus berimaji tentangmu. Entah naluri apa yang dapat membuatku menaruh harapan di sekejap hidupmu. Apakah aku tak muluk untuk mengharap itu.
Kita telah lama bersama. Di suatu tempat yang hanya bernotabene kawan. Namun kejadian itu, yang bahkan jarum panjang jam pun berputar tak sampai 360 derajat. Kurasakan setiap angin yang menerpa kala itu. Senyumku yang memang bukan seperti biasa, yang selalu mengalir entah berlebihan atau tidak. Namun pada waktu yang relatif singkat itu, aku menemukan sosok masa laluku bukan hanya dalam rupa lain. Namun pribadi yang lebih hebat dibanding dia yang telah menemukan pelabuhan akhirnya.
Aku masih menjelma dalam bentuk yang samar. Aku tak berani berkata, karena kamu terlalu fiktif untuk kudapatkan. Karena ini cinta, aku tak berharap banyak untuk membuat kau berfikir hal yang serupa. Aku hanya ingin melihatmu terus tertawa di setiap sanubariku yang terluka. Sekali lagi, aku menemukan sosok yang hampir melebihi garis batasku berkhayal.
Aku tak peduli walau sejuta arjuna berada disana. Aku akan selalu mencintaimu. Walau akusering menggambarkan sosok arjuna-arjuna di peraduanmu. Namun, hanya kau seorang arjuna yang dapat membuatku memiliki semangat untuk terus bergulat melawan setiap keangkuhan ragaku.
Tags: Dia
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »